Posted on

Press Briefing

[25 Feb 2011] Pokok-Pokok Press Briefing Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Michael Tene dan Kusuma Habir, Jakarta, 25 Februari 2011

Pada hari Jumat, 25 Februari 2011, Kementerian Luar Negeri RI telah menyelenggarakan Press Briefing oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Michael Tene dan Kusuma Habir dengan pokok-pokok sebagai berikut:
1. Jadwal Kegiatan (calendar of event) Menteri Luar Negeri RI
a. Kunjungan bilateral Menlu Serbia pada tanggal 26 – 28 Februari 2011.
b. Kunjungan bilateral Menlu Siprus pada tanggal 1 Maret 2011.
2. Upaya Perlindungan WNI di Luar Negeri
a. Perkembangan proses evakuasi dan upaya perlindungan WNI di Tripoli, Libya
Pada hari Jumat (25/2) pukul 19.00 akan dilakukan evakuasi WNI kloter pertama yang akan membawa sebanyak 260 WNI menuju Tunisia dan selanjutnya akan ditangani untuk dibawa ke Indonesia. Evakuasi WNI kloter pertama ini akan membawa seluruh pegawai P.T. Wika serta WNI lain dengan menggunakan Tunis Air menuju Tunisia. Hingga saat ini, semua 875 WNI yang terdaftar di KBRI Libya dalam keadaan selamat. Lebih dari 500 WNI merupakan pekerja sektor formal (201 orang merupakan pegawai P.T. Wika) dan sekitar 130 orang adalah pelajar. Sebagian besar WNI di Libya bermukim di sekitar kota Tripoli. Menurut laporan Dubes RI di Tripoli, keadaan di kota Tripoli cenderung terkendali walaupun masih tetap terdengar suara tembakan.
Melalui kerja sama dengan para masyarakat dan mahasiswa, KBRI Tripoli terus berkoordinasi dan membuka jaringan komunikasi untuk mendata semua WNI yang masih belum terdaftar. Evakuasi WNI di Libya tidak terbatas pada WNI yang terdaftar saja, tetapi juga yang tidak terdaftar. Diharapkan masyarakat dapat memberikan informasi keberadaan WNI yang tidak terdaftar untuk selanjutnya ditangani oleh KBRI Tripoli. Karena keterbatasan personel di KBRI Tripoli, malam ini (25/2) akan dikirimkan tim bantuan yang akan membantu proses evakuasi dan upaya perlindungan WNI di Libya.
Keberlangsungan proses evakuasi WNI berdasarkan dari hasil assesment tim Satgas yang dipimpin oleh Hassan Wirajuda bersama-sama tim KBRI Tripoli di lapangan. Pada prinsipnya kebijakan Pemri akan memfasilitasi WNI yang ingin dievakuasi.

b. Perkembangan keadaan di Christchurch, Selandia Baru

Hingga saat ini korban gempa yang terjadi di Christchurch, Selandia Baru pada 22 Februari 2011 terus bertambah. Pemerintah Indonesia melalui KBRI Wellington telah mengirim tim ke Christchurch untuk terus memantau WNI yang bermukim di wilayah Christchurch dan sekitarnya serta berkoordinasi dengan aparat setempat untuk memastikan semua WNI dalam keadaan selamat. Untuk sementara ini tidak ada WNI yang menjadi korban gempa tersebut. Sebanyak 17 orang WNI di Christchurch yang sebelumnya tidak dapat dihubungi saat ini sudah diketahui keberadaannya dan dalam keadaan selamat.
c. Perkembangan evakuasi dan upaya perlindungan WNI di Kairo, Mesir
Tim satgas yang bertugas mengevakuasi WNI dari Kairo hingga saat ini masih terus bertugas. Sehubungan dengan membaiknya keadaan di Kairo saat ini, para pelajar Indonesia yang ikut dalam proses evakuasi dan ingin kembali ke Kairo agar segera melaporkan diri ke Kementerian Pendidikan Nasional paling lama 30 hari setelah kedatangannya di Jakarta. Seluruh nama yang sudah tercantum di Kementerian Pendidikan Nasional akan difasilitasi ke Kairo untuk melanjutkan studinya.
d. Perkembangan Kasus WNI  A.n. Darsam di Riyadh, Arab Saudi
Seorang WNI a.n. Darsam yang bekerja di Riyadh, Arab Saudi, didakwa melakukan pembunuhan terhadap majikannya yang berkewarganegaraan Yaman. Pengadilan Riyadh pada tahun 2009 menjatuhkan hukuman mati kepada terdakwa, tetapi dapat dibebaskan apabila keluarga korban (ahli waris) mau memberikan pengampunan. Pada tanggal 7 Januari 2011 pihak ahli waris sudah bersedia memberikan pengampunan dengan kompensasi membayar uang sebesar 2 juta Riyal Saudi. Sementara ini sudah ada donor yang akan membayar sebagian dari sejumlah uang tersebut. KBRI Riyadh bersama dengan Kemlu RI akan terus berusaha untuk memenuhi jumlah uang tersebut agar ybs dapat dibebaskan dari hukuman mati.
3. Hasil ASEAN Foreign Ministers’ Informal Meeting di Jakarta pada 22 Februari 2011
Dalam kasus sengketa perbatasan antara Thailand dan Kamboja, Indonesia yang berperan sebagai observer mendapatkan mandat membantu dan mendukung kedua belah pihak untuk menghindari konflik senjata dengan melakukan observasi dan memberikan laporan secara akurat serta menerima keluhan atas pelanggaran yang dilakukan oleh kedua belah pihak untuk kemudian menyerahkannya kepada kedua belah pihak melalui Indonesia sebagai ketua ASEAN.

Tim observer yang akan dikirim ke wilayah perbatasan Thailand dan Kamboja masih terus dipersiapkan, karena harus melalui persetujuan ketiga negara dan diharapkan dapat dikirim dalam waktu dekat. Komposisi tim observer yang akan dikirim mayoritas terdiri dari personel TNI dan sejumlah kecil sipil dari Kemlu, namun sampai saat ini masih terus dipersiapkan.

http://www.kemlu.go.id/Pages/PressBriefing.aspx?IDP=87&l=id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s